Ketika kita berbicara tentang kuliner Jawa Barat, yang kerap melintas di pikiran adalah kesegaran lalapan, sambal yang pedas, atau olahan aci yang kreatif. Namun, jika kita mengaktifkan “Mata Bumi” untuk menjelajahi sudut-sudut dataran tinggi Geopark Ciletuh, kita akan menemukan sebuah cerita kuliner yang jauh lebih mendalam: kisah tentang bagaimana manusia bertahan hidup dan menciptakan kelezatan dengan beradaptasi pada kerasnya tanah purba.
Ciletuh tidak hanya memberi kita pemandangan air terjun, tetapi juga mengenalkan kita pada Hanjeli, sejenis biji-bijian purba yang menjadi simbol ketangguhan pangan lokal, berpadu dengan gurihnya hasil laut pesisir selatan.
🌾 Hanjeli Waluran: Berkah Kuliner di Atas Tanah Berbatu
Jika Anda bergeser sedikit ke area dataran tinggi Geopark Ciletuh, tepatnya di Desa Wisata Waluran, Anda tidak akan melihat hamparan sawah padi yang hijau subur. Sebaliknya, Anda akan melihat lanskap tanah kering yang cenderung berbatu—akibat dari formasi geologi batuan dasar samudra yang mencuat ke permukaan.
Di atas tanah yang tergolong marjinal dan sulit ditanami padi inilah, tanaman Hanjeli (Coix lacryma-jobi) justru tumbuh subur dengan gagah.
- Apa itu Hanjeli? Hanjeli adalah salah satu jenis tanaman pangan purba sejenis serealia (biji-bijian) yang sudah dikonsumsi manusia sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum padi mendominasi Asia. Tanaman ini memiliki akar yang sangat kuat untuk menembus tanah berbatu dan sangat tahan terhadap kekeringan.
- Kreativitas Rasa Lokal: Melalui kearifan lokal warga Desa Waluran, biji hanjeli yang keras diolah secara kreatif menjadi berbagai hidangan lezat. Mulai dari Bubur Hanjeli yang bertekstur kenyal mirip jeli dengan kuah santan dan gula aren yang manis-gurih, Rengginang Hanjeli yang renyah, hingga diolah menjadi dodol dan sereal modern.
Menyantap semangkuk bubur hanjeli hangat di tengah sejuknya bukit Waluran adalah cara kita mengagumi bagaimana alam dan manusia berkompromi melahirkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
🦞 Kesegaran Pesisir: Hadiah dari Liarnya Samudra Hindia
Puas menikmati keunikan pangan purba di daratan tinggi, turunlah menuju garis pantai amfiteater Ciletuh di Pantai Palangpang atau Ujung Genteng untuk mencicipi pilar kuliner keduanya: Seafood Tangkapan Liar.
Karena berhadapan langsung dengan perairan dalam dan berombak besar khas Samudra Hindia, ekosistem laut Ciletuh kaya akan biota laut berkualitas tinggi. Menu andalan di sini adalah Lobster Bakar dan Ikan Bakar Kakap Merah atau Kerapu yang ditangkap langsung oleh para nelayan lokal menggunakan perahu tradisional jungkung.
Ikan-ikan ini dibakar menggunakan sabut kelapa kering dengan olesan bumbu rempah sederhana, lalu disajikan bersama Sambal Jahe khas Sukabumi yang hangat dan sedikit getir. Karakter daging ikannya sangat padat, manis alami, dan segar karena langsung diolah dari laut tanpa proses pembekuan yang lama.
👁️ Sudut Pandang “Mata Bumi”
Kuliner Geopark Ciletuh mengajarkan kita arti dari sebuah adaptasi. Bumi tidak selalu menyediakan tanah yang empuk dan subur untuk menanam padi, tetapi bumi menyediakan Hanjeli untuk tanah yang keras berbatu. Bumi juga membentangkan laut yang berombak liar, namun menyimpan kelimpahan nutrisi di dalamnya. Menikmati kuliner Ciletuh adalah bentuk apresiasi kita terhadap kecerdasan manusia lokal dalam membaca potensi tanah dan air tempat mereka berpijak.
